Sabtu, 19 November 2011

Tutorial Watarasebashi #19 – Pernyataan keadaan benda, cara mengatakan “adalah” dan “bukanlah”

Maaf sekali readers. Saya lama nggak update lagi nih dikarenakan sibuk ngurusin skripsi (udah lulus sih walau dapet nilai C sebanyak 2) hehe. Sekarang sedang mempersiapkan untuk S2 di Universitas Tokyo. Doakan supaya lancar ya! m(_ _)m


Pembahasan masih berlanjut di tutorial Watarasebashi bagian 19. Simak teruuuuuus!!

-ooOoo-

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Sekarang kita akan belajar cara menyatakan keadaan benda, yaitu mengatakan bahwa sesuatu memang sesuatu (misalnya “dia adalah murid”) dan bahwa sesuatu bukanlah sesuatu (misalnya “dia bukan murid”). Yang akan kita pelajari lebih dulu adalah bagian “adalah murid” dan “bukan murid”-nya.

Kita butuh cukup banyak pengetahuan baru untuk bisa memamahi sisa dari kalimat pertama di Watarasebashi. Tapi paling tidak, setelah membaca bagian ini kamu bisa tahu maksud datta yang ada di bagian akhir kalimat pertama tersebut.

Menyatakan bahwa sesuatu memang sesuatu menggunakan da

Untuk menyatakan bahwa sesuatu memang sesuatu, kita menempelkan da (だ) ke nomina atau adjektiva-na. Untuk adjektiva-i, aturannya beda dan akan kita pelajari belakangan. Nah, sebetulnya aturan tata bahasa untuk nomina dan adjektiva-na tidak hanya sama pada kasus ini. Untuk sebagian besar kasus, aturan bagi nomina dan adjektiva-na persis sama. Jadi selama tidak disebutkan secara eksplisit bahwa aturannya berbeda, kamu boleh berasumsi bahwa nomina dan adjektiva-na berperilaku sama.

Menyatakan bahwa sesuatu memang begitu menggunakan da

Tempelkan 「だ」 ke nomina atau adjektiva-na
isha → isha da (adalah dokter)
taisetsu → taisetsu da (bersifat penting)
医者 (isha): dokter
大切 (taisetsu): penting

Inilah contohnya:
歌手だ
kashu da
adalah penyanyi
歌手 (kashu): penyanyi
黒い本だ
kuroi hon da
adalah buku hitam
黒い (kuroi): hitam
本 (hon): buku

簡単だ
kantan da
bersifat mudah
簡単 (kantan): mudah, sederhana

Pada contoh di atas, perhatikan bahwa kashu dan hon adalah nomina sedangkan kantan adalah adjektiva-na. Fungsi da kurang lebihnya sama seperti “adalah” di dua contoh pertama dan “bersifat” pada contoh 3. Intinya, da mengiyakan bahwa sesuatu memang sesuatu. Namun ada satu hal penting yang perlu kamu ingat:

Pernyataan keadaan benda positif (mengiyakan) bisa dilakukan tanpa da!

Ini sebetulnya juga sama pada bahasa Indonesia. Kita bisa menghilangkan “adalah” pada “dia adalah penyanyi” sehingga menjadi “dia penyanyi”. Lalu, “bersifat” pada “soal ini bersifat mudah” bisa dihilangkan sehingga hasilnya “soal ini mudah”.

Pada bahasa Indonesia, kata “adalah” tidak berhubungan dengan jenis kelamin maupun kesopanan. Namun di bahasa Jepang nuansa yang diberikan jauh berbeda. Keberadaan da membuat kalimatnya terdengar lebih tegas, memaksa, dan dengan kata lain deklaratif. Oleh karenanya, yang lebih sering menggunakan da di akhir kalimat adalah laki-laki. Di bahasa Jepang, gaya bahasa tegas juga berarti tidak sopan. Oleh karenanya, saat nanti belajar gaya bahasa sopan kita akan melihat bahwa da tidak digunakan sebagai akhiran kalimat. Terakhir, karena da digunakan untuk membuat pernyataan, secara umum kamu tidak bisa menggunakannya saat bertanya.

Konjugasi negatif (penyangkalan)

Di bahasa Jepang, bentuk negatif dan lampau dinyatakan melalui perubahan bentuk atau konjugasi. Nomina dan adjektiva bisa dikonjugasi ke bentuk negatif untuk menyatakan bahwa sesuatu bukan X dan ke bentuk lampau untuk menyatakan bahwa sesuatu dulunya X. Mungkin kedengarannya aneh, tapi konjugasi-konjugasi tersebut tidak memiliki konotasi deklaratif sebagaimana da. Kita bisa menggabungkan konjugasi-konjugasi tersebut dengan da untuk membuatnya deklaratif, tapi caranya tidak akan dibahas di episode ini.

Pertama, untuk bentuk negatif, kamu hanya perlu menempelkan janai ke nomina atau adjektiva-na. Pada bahasa Indonesia, ini akan menjadi “bukan” seperti pada “dia bukan penyanyi” atau “tidak” seperti pada “soal ini tidak mudah”.

Aturan konjugasi untuk bentuk negatif

Tempelkan janai ke nomina atau adjektiva-na
sakana → sakana janai (bukan ikan)
jouzu → jouzu janai (tidak mahir)
魚 (sakana): ikan
上手 (jouzu): mahir

Ini contohnya:

友達じゃない
tomodachi janai
bukan teman
友達 (tomodachi): teman

きれいじゃない
kirei janai
tidak cantik
きれい (kirei): cantik

Konjugasi bentuk lampau

Di bahasa Indonesia, untuk menyatakan keadaan di masa lalu digunakan keterangan waktu seperti “tadi”, “tahun lalu”, “dulu”, dan “waktu itu”. Contohnya adalah “ujiannya kemarin mudah”. Di bahasa Jepang, keterangan waktu juga bisa diberikan. Namun yang wajib dilakukan adalah mengubah katanya ke bentuk lampau. Jadi walaupun sudah ada keterangan waktu, jangan lupa untuk tetap mengubah katanya ke bentuk lampau.

Untuk mengatakan bahwa sesuatu dulunya sesuatu, datta ditempelkan ke nomina atau adjektiva-na. Kita akan secara bebas menggunakan penanda waktu “dulu” maupun “waktu itu” pada terjemahannya.

Untuk mengatakan bentuk negatif lampau (dulunya bukan), bentuk negatifnya dikonjugasi menjadi bentuk negatif lampau dengan membuang i dari janai dan menambahkan katta.

Aturan konjugasi untuk bentuk lampau

1.    Bentuk lampau : Tempelkan datta ke nomina atau adjektiva-na
tomodachi → tomodachi datta (waktu itu teman)
jouzu → jouzu datta (waktu itu mahir)

2.    Bentuk lampau negatif : Konjugasikan nomina atau adjektiva-na ke bentuk negatif lalu ganti i pada janai dengan katta
tomodachi → tomodachi janai → tomodachi janakatta (waktu itu bukan teman)
jouzu → jouzu janai → jouzu janakatta (waktu itu tidak mahir)

Ini contohnya:

先生だった
sensei datta
dulu guru
先生 (sensei): guru

約束を守る人じゃなかった
yakusoku o mamoru hito janakatta
dulu bukan orang yang menepati janji
約束 (yakusoku): janji
守る (mamoru): melindungi, menjaga
人 (hito): orang

Perhatikan bahwa di bahasa Jepang digunakan ungkapan “melindungi janji” (yakusoku o mamoru) yang di bahasa Indonesia umumnya adalah “menepati janji”.

きれいじゃなかった
kirei janakatta
waktu itu tidak cantik
Perlu diperhatikan bahwa bentuk lampau di bahasa Jepang sama sekali tidak mengatakan apapun tentang keadaannya yang sekarang. Misalnya pada contoh terakhir kalimatnya diartikan sebagai “waktu itu tidak cantik”. Bagaimana keadaanya sekarang? Apakah sekarang cantik atau tidak? Nah, janakatta sama sekali tidak bisa menjawab hal tersebut. Ini sama dengan contoh di atasnya yaitu sensei datta. Bisa saja sekarang juga masih guru, namun bisa juga sekarang sudah berhenti jadi guru.
Pada kalimat pertama lirik Watarasebashi, kamu bisa menjumpai suki datta. Ini adalah datta yang baru saja kita pelajari, yaitu pernyataan keadaan positif lampau. Namun pembahasan lengkapnya masih akan ditahan karena kita perlu tahu lebih lanjut tentang adjektiva-na suki (suka), terutama mengenai cara penggunaannya yang umum.

Penutup

Kita telah belajar mengkonjugasikan keadaan benda ke empat bentuk yang mungkin. Inilah tabel ringkasan konjugasi yang dipelajari di bab ini.

Lihat link ini karena upload fotonya lemot banget. Tabel
(Tabel ini dibuat berdasarkan bab yang bersesuaian pada Tutorial Bahasa Jepang Tae Kim yang masih akan direncanakan)

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

医者 (isha): dokter
大切 (taisetsu): penting
歌手 (kashu): penyanyi
黒い (kuroi): hitam
本 (hon): buku
簡単 (kantan): mudah, sederhana
魚 (sakana): ikan
上手 (jouzu): mahir
友達 (tomodachi): teman
きれい (kirei): cantik
先生 (sensei): guru
約束 (yakusoku): janji
守る (mamoru): melindungi, menjaga
人 (hito): orang
学生 (gakusei): murid

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tutorial Watarasebashi #18 – Partikel objek langsung o (を)

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Sekarang kita akan belajar partikel o yang menandakan objek langsung. Objek langsung adalah benda yang dikenai aksi suatu verba, misalnya “ikan” pada “saya makan ikan” dan “tembok” pada “dia memukul tembok”.

Penulisan dan cara baca

Partikel o ini di bahasa Jepang ditulis dengan hiragana を (wo). Namun pada prakteknya di percakapan dia umumnya diucapkan “o”, dan karenanya kita akan menggunakan romanisasi o. Tapi ingat, pengucapan “wo” juga akan kamu temui dan sepertinya pada lagu-lagu partikel ini malah lebih sering diucapkan sebagai “wo”. Pada baris pertama lagu Watarasebasi misalnya, partikel ini diucapkan sebagai “wo”.

Penggunaan

Sama seperti partikel de, partikel ini juga ditempelkan di belakang nomina yang ingin ditandai. Inilah contohnya.

魚を手で食べる
sakana o te de taberu
makan ikan dengan tangan

魚 (sakana): ikan
手 (te): tangan
食べる (taberu): makan

Ingat, karena peran katanya ditunjukkan dengan partikel, kita bisa dengan bebas menukar lokasinya. Yang penting verbanya ada di akhir.

手で魚を食べる
te de sakana o taberu
makan ikan dengan tangan

Pada semua contoh di atas, kita tahu bahwa ikan adalah objek langsungnya karena dia ditempeli o. Walaupun letaknya pada kalimat berubah, tidak akan ada kesalahpahaman atau perubahan arti.
Inilah beberapa contoh lain penggunaan partikel o.

壁を打つ
kabe o utsu
memukul tembol

壁 (kabe): tembok
打つ (utsu): memukul

動物を愛する人々
doubutsu o ai suru hitobito
orang-orang yang mencintai hewan

動物 (doubutsu): hewan
愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人々 (hitobito): orang-orang

Perhatikan bahwa ai adalah nomina. Dengan diberi suru dia menjadi verba. Jadi arti literal ai suru adalah “melakukan cinta”. Namun dengan konstruksi seperti ini akan lebih mudah kalau kamu menganggap seluruh kombinasi nomina+suru sebagai suatu verba. Pada contoh di atas, anggap ai suru sebagai suatu verba yang artinya “mencintai”. Tentu saja, bentuk lengkap “melakukan cinta” adalah ai o suru dan kamu juga akan menjumpai bentuk yang menggunakan o tersebut.

有名な小説を読む
yuumei na shousetsu o yomu
membaca novel terkenal

有名 (yuumei): terkenal
小説 (shousetu): novel
読む (yomu): membaca

Perlu diketahui bahwa apa yang merupakan objek langsung di bahasa Indonesia belum tentu diekspresikan dengan sama di bahasa Jepang. Sebagai contoh, pada frasa bahasa Indonesia “menjadi dokter”, verba “menjadi” didampingi objek langsung “dokter”. Tapi di bahasa Jepang, verba naru (menjadi) tidak menggunakan objek langsung. Dengan kata lain, untuk menandai isha (dokter) pada frasa “menjadi dokter” tidak digunakan partikel o namun partikel lain (akan dipelajari belakangan). Kalau ragu, saran saya adalah melihat contoh-contoh kalimat agar mengetahui partikel yang benar untuk suatu verba. Kamus yang memiliki contoh kalimat misalnya Yahoo! Jisho, WWWJDIC (cari katanya lalu klik pranala [Ex]), dan ALC. Jangan kaget kalau partikelnya tidak sesuai dengan yang kamu harapkan karena cara berpikir di bahasa Jepang memang berbeda dengan cara berpikir di bahasa Indonesia.

Partikel o dengan verba gerakan

Tidak seperti konsep objek langsung di bahasa Indonesia, tempat juga bisa menjadi objek langsung verba gerakan seperti aruku (berjalan) dan hashiru (berlari). Ini artinya kita bergerak melalui atau melintasi tempat tersebut. Bayangkan saja o menandakan objek injak-injakan kaki kita saat bergerak.

街をぶらぶら歩く
machi o burabura aruku
berjalan sepanjang kota tanpa tujuan. (lit: berjalan kota tanpa tujuan)

街 (machi): kota
ぶらぶら (burabura): tanpa tujuan
歩く (aruku): berjalan

高速道路を走る
kousoku douro o hashiru
berlari melintasi jalan raya. (lit: Berlari jalan raya)

高速 (kousoku): kecepatan tinggi
道路 (douro): jalan
走る (hashiru): berlari

o pada lirik Watarasebashi

Baris pertama lirik Watarasebashi adalah sebagai berikut:

渡良瀬橋で見る夕日を
watarasebashi de miru yuuhi o
(o dibaca “wo” pada potongan lirik ini)

Bisa dilihat bahwa o menempel pada yuuhi (matahari terbenam). Ini artinya “matahari terbenam (yang dilihat dari jembatan Watarase)” menjadi objek langsung dari suatu aksi. Apakah aksinya itu?
Kalimat pertama pada lagu Watarasebashi terdiri dari baris pertama dan kedua. Namun kalau kamu menyelidiki kata-kata yang ada di baris kedua, sebetulnya tidak ada verba di situ. Loh, kok bisa? Kalau tidak ada verba, lalu untuk apa partikel o-nya? Iya, ini memang bisa terjadi karena kalimat pertama di lirik Watarasebashi ternyata menggunakan tata bahasa yang cukup unik. Nanti misteri ini akan kita buka pelan-pelan.

Penutup

Partikel o menandai bahwa suatu kata adalah objek langsung. Bagi verba gerakan seperti aruku (berjalan), objek langsung maksudnya adalah tempat yang dilalui atau dilintasi. Terakhir, kita harus hati-hati karena verba-verba tertentu yang di bahasa Indonesia menggunakan objek langsung seperti “menjadi” ternyata tidak menggunakan partikel o di bahasa Jepang.

Lampiran: daftar kata
Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

魚 (sakana): ikan
手 (te): tangan
食べる (taberu): makan
壁 (kabe): tembok
打つ (utsu): memukul
動物 (doubutsu): hewan
愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人々 (hitobito): orang-orang
有名 (yuumei): terkenal
小説 (shousetu): novel
読む (yomu): membaca
医者 (isha): dokter
なる (naru): menjadi
街 (machi): kota
ぶらぶら (burabura): tanpa tujuan
歩く (aruku): berjalan
高速 (kousoku): kecepatan tinggi
道路 (douro): jalan
走る (hashiru): berlari

Minggu, 10 Juli 2011

Tutorial Watarasebashi #17 – Hubungan nomina dengan klausa subordinat yang mendeskripsikannya

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Pada bahasa Jepang, saat suatu nomina dimodifikasi oleh klausa subordinat verba, belum tentu nominanya adalah pelaku dari aksinya. Di episode sebelumnya, terdapat contoh berikut:

お箸で食べる人[1]
ohashi de taberu hito
orang yang makan dengan sumpit

お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
人 (hito): orang

Verbanya adalah “makan”, dan dalam contoh tersebut nomina yang dimodifikasi yaitu “orang” memang menjadi pelaku dari “makan”. Tapi lihat contoh berikutnya dari lagu Shabondama:

愛する人[2: | ]
ai suru hito

愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人 (hito): orang

Karena ai suru artinya “mencintai”, maka mungkin kamu menebak bahwa artinya adalah “orang yang mencintai”. Tapi itu bukan artinya! Pada frasa tersebut, “orang” ternyata bukanlah pelaku dari “mencintai”, tapi malah objek dari aksi “mencintai” tersebut. Pelakunya tersirat yaitu “aku”, penyanyi dari lagu tersebut. Jadi artinya sebetulnya adalah “orang yang aku mencintainya” atau mudahnya “orang yang kucintai”.

Karena hubungan yang fleksibel antara nomina dengan klausa subordinat ini, cara untuk mengetahui makna sebenarnya tentunya dengan menyimpulkan sendiri dari konteks yang ada. Jangan khawatir karena kalau sudah terbiasa, ini sebetulnya tidak sesusah yang dibayangkan. Ini contoh lainnya:

生きる証[3: | ]
ikiru akashi
Bukti bahwa (kita) hidup

生きる (ikiru): hidup
証 (akashi): bukti

Perhatikan bahwa artinya bukanlah “bukti yang hidup”. Lagi-lagi di sini pelaku verbanya yaitu “kita” tidak tertulis tetapi disimpulkan sendiri.

Dengan pengetahuan baru ini, sekarang kita bisa mengartikan lirik Watarasebashi:

渡良瀬橋で見る夕日
watarasebashi de miru yuuhi

見る (miru): melihat
夕日 (yuuhi): matahari terbenam

Jelas “matahari terbenam” tidak bisa melihat. Karena itu yang melihat pastilah orang, sedangkan “matahari terbenam” malah objek yang dilihat! Jadi terjemahan literalnya adalah “matahari terbenam yang melihatnya di Jembatan Watarase”. Kalau kita ingin menginterpretasikannya menjadi bahasa Indonesia yang enak didengar, maka kita bisa mengubahnya menjadi “matahari terbenam yang dilihat dari Jembatan Watarase”. Sekarang semuanya masuk akal kan?

Inilah diagram yang menunjukkan bagaimana suatu klausa subordinat menjelaskan suatu nomina. Seperti telah kita ketahui, cara kerjanya sama persis dengan adjektiva:


Penutup

Saat klausa subordinat mendeskripsikan nomina, tata bahasa Jepang tidak mendefinisikan peran yang pasti untuk nominanya. Bisa saja dia menjadi pelaku dari aksi yang ada, bisa saja dia menjadi objeknya, atau bahkan yang lainnya. Arti yang dimaksud harus disimpulkan sendiri dari konteks yang ada.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人 (hito): orang
見る (miru): melihat
夕日 (yuuhi): matahari terbenam

Rabu, 08 Juni 2011

Tutorial Watarasebashi #14 – Pengenalan pada adjektiva


Langit yang luas

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]
Untuk bisa maju ke tahap berikutnya dalam memahami lirik Watarasebashi, kita perlu tahu bagaimana suatu nomina (kata benda) digambarkan di bahasa Jepang. Nomina seperti “buku” bisa dilukiskan sifatnya lebih lanjut misalnya “buku baru” (atau “buku yang baru”), “buku hitam”, dan “buku berat”. Kata-kata yang mendeskripsikan tersebut dinamakan adjektiva (kata sifat), dan itulah pembahasan kita kali ini.
Hal terpenting yang perlu diingat adalah urutannya terbalik dengan bahasa Indonesia. Jadi adjektivanya muncul sebelum nominanya. Lalu, di bahasa Jepang terdapat dua jenis adjektiva yaitu adjektiva-i dan adjektiva-na yang aturan penggunaanya berbeda.

Adjektiva-i

Adjektiva-i dinamakan begitu karena selalu diakhiri hiragana i(い). Ini adalah okurigana yaitu bagian akhir kata yang bisa berubah bentuk. Cara menggunakannya sangat mudah karena tidak perlu disisipi apa-apa:

1) 広い空
hiroi sora
langit luas

広い (hiroi): luas
空 (sora): langit

Contoh yang pertama ini ada di akhir lagu Watarasebashi.

2) 新しい本
atarashii hon
buku baru

新しい (atarashii): baru
本 (hon): buku

Tapi kamu juga perlu hati-hati karena beberapa adjektiva-na diakhiri hiragana i. Untungnya, saya rasa yang akan kamu temui hanyalah kirei (cantik, rapi) dan kirai (benci). Kirei hanya terlihat seperti adjektiva-i jika ditulis dengan hiragana (きれい). Kalau ditulis dengan kanji (綺麗), jelas bahwa sebetulnya tidak ada い yang menguntit. Kirai yang ditulis dengan kanji (嫌い) memang berakhiran い karena dia diturunkan dari kata kerja kirau (嫌う, membenci).

Adjektiva-na

Adjektiva-na dinamakan begitu karena kita perlu menambahkan na padanya agar bisa menggambarkan nomina:

3) きれいなとこ
kirei na toko
tempat indah

きれい (kirei): indah
とこ (toko): tempat

4) 静かな朝
shizuka na asa
pagi hening

静か (shizuka): hening
朝 (asa): pagi

Mudah kan?

Merantai banyak adjektiva

Untuk menggambarkan suatu nomina dengan banyak adjektiva, jejerkan saja mereka sebelum nominanya:

5) 安い新鮮な魚
yasui shinsen na sakana
ikan yang murah dan segar

安い (yasui): murah
新鮮 (shinsen): segar
魚 (sakana): ikan

Tentunya dengan urutan yang lain juga bisa:

6) 新鮮な安い魚
shinsen na yasui sakana
ikan yang segar dan murah

Proses adjektiva yang memodifikasi nomina bisa digambarkan seperti berikut:


Saya minta kamu memperhatikan sejenak baris paling bawah diagram tersebut. Bisa dilihat bahwa nominanya dimodifikasi oleh lebih dari satu hal. Nanti kamu akan sangat sering bertemu pola seperti ini, yaitu suatu nomina yang dimodifikasi oleh berbagai macam hal. Dalam kasus kita ini, yang memodifikasinya adalah adjektiva-adjektiva yang sederhana sehingga kita memilah-milahnya juga gampang. Namun di teks bahasa Jepang nanti kamu akan sering menemui berbagai klausa panjang yang memodifikasi nomina. Dalam kasus tersebut, polanya sebetulnya sama persis seperti kasus yang saat ini, hanya saja yang akan menjadi tantangan pada awalnya adalah mencari batas-batas tiap komponen yang memodifikasi tersebut.

Penutup

Di bahasa Jepang terdapat dua jenis adjektiva yaitu adjektiva-i dan adjektiva-na. Ciri adjektiva-i adalah diakiri hiragana i, namun perlu diingat bahwa kirei dan kirai adalah adjektiva-na. Adjektiva-na perlu ditambahi na sebelum bisa memodifikasi nomina.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

広い (hiroi): luas
空 (sora): langit
新しい (atarashii): baru
本 (hon): buku
綺麗 (kirei): cantik, rapi
嫌い (kirai): benci
嫌う (kirau): membenci
とこ (toko): tempat
静か (shizuka): hening
朝 (asa): pagi
安い (yasui): murah
新鮮 (shinsen): segar
魚 (sakana): ikan

Tutorial Watarasebashi #16 – Klausa subordinat deskriptif

Matahari yang melihat?

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode sebelumnya kita telah melihat bagaimana adjektiva bisa menerangkan sifat nomina. Hal yang sama juga bisa dilakukan dengan mudah oleh suatu klausa yang diakhiri verba. Misalnya kita punya klausa berikut:

自転車で通う
jitensha de kayou
berangkat dan pulang dengan sepeda

自転車 (jitensha): sepeda
通う (kayou): pulang pergi (ke sekolah, tempat kerja, dsb)

Klausa itu bisa digunakan untuk menerangkan nomina misalnya gakusei:

自転車で通う学生[1]
jitensha de kayou gakusei
murid yang berangkat dan pulang dengan sepeda
学生 (gakusei): murid

Klausa subordinatnya ditandai dengan warna beda. Seperti yang bisa dilihat, kita tinggal memperlakukan klausanya layaknya suatu adjektiva! Aturan peletakannya juga sama yaitu sebelum nominanya. Dengan ini kemampuan berekspresi kita menjadi jauh lebih luas! Inilah contoh-contoh lainnya:

冬眠する動物[2]
toumin suru doubutsu
binatang yang berhibernasi

冬眠 (toumin): hibernasi
する (suru): melakukan
動物 (doubutsu): binatang

Perhatikan bahwa toumin adalah nomina yang artinya “hibernasi”. Dengan diberi verba suru, maka artinya menjadi “melakukan hibernasi” atau sederhananya “berhibernasi”. Banyak sekali nomina yang bisa diubah menjadi verba dengan diberi suru, misalnya benkyou (belajar, nomina) yang menjadi benkyou suru (belajar, verba) dan ai (cinta) yang menjadi ai suru (mencintai).

お箸で食べる人[3]
ohashi de taberu hito
orang yang makan dengan sumpit

お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
人 (hito): orang

Sumpit bisa disebut hashi maupun ohashi. Kata-kata tertentu memang sering diberi prefix o-, seperti bentou (makanan dalam kotak) yang sering juga disebut obentou. Yang diberi o- terdengar lebih sopan.

ストローで飲む女[4]
sutoroo de nomu onna
perempuan yang minum dengan sedotan

ストロー (sutoroo): sedotan (Inggris: straw)
飲む (nomu): minum
女 (onna): wanita, perempuan

シーワールドで泳ぐイルカ[5]
shii waarudo de oyogu iruka
lumba-lumba yang berenang di Sea World

シーワールド (shii waarudo): Sea World
泳ぐ (oyogu): berenang
イルカ (iruka): lumba-lumba

低い声で唸る人狼[6]
hikui koe de unaru jinrou
manusia serigala yang menggeram dengan suara rendah

低い (hikui): rendah
声 (koe): suara
唸る (unaru): menggeram
人狼 (jinrou): manusia serigala

Nah sekarang kita kembali ke lirik Watarasebashi. Kita punya:

渡良瀬橋で見る夕日
watarasebashi de miru yuuhi

yuuhi berarti “matahari terbenam”. Loh, lalu apakah artinya jadi “matahari terbenam yang melihat di Jembatan Watarase“? Tentu ini tidak masuk akal karena matahari tidak mungkin bisa melihat (kecuali kalau kita bicara kiasan atau fantasi, tapi bukan itu kasusnya di lagu ini). Lalu terlebih lagi matahari tidak bisa datang ke Jembatan Watarase. Ilmu dasarnya telah kita pelajari di episode ini, namun jawabannya harus menunggu di episode berikutnya karena memerlukan penjelasan tambahan.

Penutup

Klausa yang diakhiri verba bisa digunakan layaknya adjektiva. Dengan meletakkannya sebelum nomina, kita bisa menggambarkan nomina tersebut dengan cukup kompleks.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

自転車 (jitensha): sepeda
通う (kayou): pulang pergi (ke sekolah, tempat kerja, dsb)
学生 (gakusei): murid
冬眠 (toumin): hibernasi
する (suru): melakukan
動物 (doubutsu): binatang
勉強 (benkyou): belajar
愛 (ai): cinta
お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
人 (hito): orang
弁当 (bentou): makanan dalam kotak
ストロー (sutoroo): sedotan (Inggris: straw)
飲む (nomu): minum
女 (onna): wanita, perempuan
シーワールド (shii waarudo): Sea World
泳ぐ (oyogu): berenang
イルカ (iruka): lumba-lumba
低い (hikui): rendah
声 (koe): suara
唸る (unaru): menggeram
人狼 (jinrou): manusia serigala

Tutorial Watarasebashi #15 – Latihan menggunakan adjektiva

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Setelah mempelajari adjektiva-i dan adjektiva-na, sekarang kamu akan latihan menggunakannya. Untuk tiap soal akan diberikan adjektiva dan nominanya, dan tugas kamu adalah menggunakan adjektivanya dengan benar untuk menggambarkan nominanya. Tujuannya adalah agar kamu terampil membedakan adjektiva-i dengan adjektiva-na.

笑顔 (egao): senyum
温かい (atatakai): hangat

       
Jawaban: atatakai egao [Motto Futari de:  | ]   

娘 (musume): putri
わがまま (wagamama): egois

       
Jawaban: wagamama na musume [Furusato:  | 詞]   

人 (hito): orang
大好き (daisuki): (sangat) suka

       
Jawaban: daisuki na hito [Suna wo Kamu You ni...NAMIDA:  | ]   


初恋 (hatsukoi): cinta pertama
淡い (awai): hanya sesaat, berlalu dengan cepat

       
Jawaban: awai hatsukoi [Zutto Suki de Ii desu ka:  | ]   

川 (kawa): sungai
綺麗 (kirei): indah

       
Jawaban: kirei na kawa (ingat, kirei adalah adjektiva-na) [ALL FOR ONE & ONE FOR ALL! :  | ]   

場所 (basho): tempat
遠い (tooi): jauh

       
Jawaban: tooi basho [Atarimae no Nichijou #1]   

自転車 (jitensha): sepeda
変 (hen): aneh

       
Jawaban: hen na jitensha [Atarimae no Nichijou #2]   

英語 (eigo): Bahasa Inggris
嫌い (kirai): benci

       
Jawaban: kirai na eigo (ingat, kirai adalah adjektiva-na) [1]    

Selasa, 07 Juni 2011

Tutorial Watarasebashi #13 – Latihan partikel konteks de (で)

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Kita telah mempelajari fungsi partikel de, yaitu memberikan konteks untuk verba. Konteks tersebut bisa berupa alat atau cara (dengan, menggunakan) maupun konteks tempat (di).
Sekarang waktunya untuk sedikit latihan. Yang perlu kamu lakukan sangat mudah yaitu menulis terjemahan bahasa Indonesianya. Soal-soal berikut berdasarkan lagu (dengan modifikasi seperlunya), dan kamu bisa mengklik ♪ untuk mendengar lagunya dan 詞 untuk melihat liriknya. Gunakan lampiran di akhir artikel ini untuk mencari tahu arti kata-kata yang tidak kamu ketahui.

1) 電話で話す [Koe:  | 詞]
denwa de hanasu

       
Jawaban: berbicara dengan telepon

2) 東京で暮らす [Furusato:  | 詞]
toukyou de kurasu

       
Jawaban: tinggal di Tokyo

3) たこ焼き屋さんで読む [Sabori:  | 詞]
takoyaki-ya-san de yomu

       
Jawaban: membaca di warung takoyaki

4) 自転車で帰る[Suppin to Namida:  | 詞]
jitensha de kaeru

       
Jawaban: pulang dengan sepeda

Dua soal terakhir di bawah diambil dari novel amatir Atarimae no Nichijou:
5) 階段で転ぶ
kaidan de korobu

       
Jawaban: jatuh di tangga
   
6) 小声で話す
kogoe de hanasu

       
Jawaban: berbicara dengan suara pelan (berbisik). Perhatikan bahwa di sini konteks yang diberikan bukanlah alat fisik, tapi lebih ke arah cara melakukan sesuatu.
 
Lampiran: daftar kata

東京 (toukyou): Tokyo
暮らす (kurasu): tinggal
電話 (denwa): telepon
話す (hanasu): berbicara
たこ焼き屋さん (takoyaki-ya-san): warung Takoyaki
読む (yomu): membaca
自転車 (jitensha): sepeda
帰る (kaeru): pulang
階段 (kaidan): tangga
転ぶ (korobu): jatuh (terpeleset, tersandung, dsb)
小声 (kogoe): suara pelan

Sabtu, 19 November 2011

Tutorial Watarasebashi #19 – Pernyataan keadaan benda, cara mengatakan “adalah” dan “bukanlah”

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Sabtu, November 19, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Maaf sekali readers. Saya lama nggak update lagi nih dikarenakan sibuk ngurusin skripsi (udah lulus sih walau dapet nilai C sebanyak 2) hehe. Sekarang sedang mempersiapkan untuk S2 di Universitas Tokyo. Doakan supaya lancar ya! m(_ _)m


Pembahasan masih berlanjut di tutorial Watarasebashi bagian 19. Simak teruuuuuus!!

-ooOoo-

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Sekarang kita akan belajar cara menyatakan keadaan benda, yaitu mengatakan bahwa sesuatu memang sesuatu (misalnya “dia adalah murid”) dan bahwa sesuatu bukanlah sesuatu (misalnya “dia bukan murid”). Yang akan kita pelajari lebih dulu adalah bagian “adalah murid” dan “bukan murid”-nya.

Kita butuh cukup banyak pengetahuan baru untuk bisa memamahi sisa dari kalimat pertama di Watarasebashi. Tapi paling tidak, setelah membaca bagian ini kamu bisa tahu maksud datta yang ada di bagian akhir kalimat pertama tersebut.

Menyatakan bahwa sesuatu memang sesuatu menggunakan da

Untuk menyatakan bahwa sesuatu memang sesuatu, kita menempelkan da (だ) ke nomina atau adjektiva-na. Untuk adjektiva-i, aturannya beda dan akan kita pelajari belakangan. Nah, sebetulnya aturan tata bahasa untuk nomina dan adjektiva-na tidak hanya sama pada kasus ini. Untuk sebagian besar kasus, aturan bagi nomina dan adjektiva-na persis sama. Jadi selama tidak disebutkan secara eksplisit bahwa aturannya berbeda, kamu boleh berasumsi bahwa nomina dan adjektiva-na berperilaku sama.

Menyatakan bahwa sesuatu memang begitu menggunakan da

Tempelkan 「だ」 ke nomina atau adjektiva-na
isha → isha da (adalah dokter)
taisetsu → taisetsu da (bersifat penting)
医者 (isha): dokter
大切 (taisetsu): penting

Inilah contohnya:
歌手だ
kashu da
adalah penyanyi
歌手 (kashu): penyanyi
黒い本だ
kuroi hon da
adalah buku hitam
黒い (kuroi): hitam
本 (hon): buku

簡単だ
kantan da
bersifat mudah
簡単 (kantan): mudah, sederhana

Pada contoh di atas, perhatikan bahwa kashu dan hon adalah nomina sedangkan kantan adalah adjektiva-na. Fungsi da kurang lebihnya sama seperti “adalah” di dua contoh pertama dan “bersifat” pada contoh 3. Intinya, da mengiyakan bahwa sesuatu memang sesuatu. Namun ada satu hal penting yang perlu kamu ingat:

Pernyataan keadaan benda positif (mengiyakan) bisa dilakukan tanpa da!

Ini sebetulnya juga sama pada bahasa Indonesia. Kita bisa menghilangkan “adalah” pada “dia adalah penyanyi” sehingga menjadi “dia penyanyi”. Lalu, “bersifat” pada “soal ini bersifat mudah” bisa dihilangkan sehingga hasilnya “soal ini mudah”.

Pada bahasa Indonesia, kata “adalah” tidak berhubungan dengan jenis kelamin maupun kesopanan. Namun di bahasa Jepang nuansa yang diberikan jauh berbeda. Keberadaan da membuat kalimatnya terdengar lebih tegas, memaksa, dan dengan kata lain deklaratif. Oleh karenanya, yang lebih sering menggunakan da di akhir kalimat adalah laki-laki. Di bahasa Jepang, gaya bahasa tegas juga berarti tidak sopan. Oleh karenanya, saat nanti belajar gaya bahasa sopan kita akan melihat bahwa da tidak digunakan sebagai akhiran kalimat. Terakhir, karena da digunakan untuk membuat pernyataan, secara umum kamu tidak bisa menggunakannya saat bertanya.

Konjugasi negatif (penyangkalan)

Di bahasa Jepang, bentuk negatif dan lampau dinyatakan melalui perubahan bentuk atau konjugasi. Nomina dan adjektiva bisa dikonjugasi ke bentuk negatif untuk menyatakan bahwa sesuatu bukan X dan ke bentuk lampau untuk menyatakan bahwa sesuatu dulunya X. Mungkin kedengarannya aneh, tapi konjugasi-konjugasi tersebut tidak memiliki konotasi deklaratif sebagaimana da. Kita bisa menggabungkan konjugasi-konjugasi tersebut dengan da untuk membuatnya deklaratif, tapi caranya tidak akan dibahas di episode ini.

Pertama, untuk bentuk negatif, kamu hanya perlu menempelkan janai ke nomina atau adjektiva-na. Pada bahasa Indonesia, ini akan menjadi “bukan” seperti pada “dia bukan penyanyi” atau “tidak” seperti pada “soal ini tidak mudah”.

Aturan konjugasi untuk bentuk negatif

Tempelkan janai ke nomina atau adjektiva-na
sakana → sakana janai (bukan ikan)
jouzu → jouzu janai (tidak mahir)
魚 (sakana): ikan
上手 (jouzu): mahir

Ini contohnya:

友達じゃない
tomodachi janai
bukan teman
友達 (tomodachi): teman

きれいじゃない
kirei janai
tidak cantik
きれい (kirei): cantik

Konjugasi bentuk lampau

Di bahasa Indonesia, untuk menyatakan keadaan di masa lalu digunakan keterangan waktu seperti “tadi”, “tahun lalu”, “dulu”, dan “waktu itu”. Contohnya adalah “ujiannya kemarin mudah”. Di bahasa Jepang, keterangan waktu juga bisa diberikan. Namun yang wajib dilakukan adalah mengubah katanya ke bentuk lampau. Jadi walaupun sudah ada keterangan waktu, jangan lupa untuk tetap mengubah katanya ke bentuk lampau.

Untuk mengatakan bahwa sesuatu dulunya sesuatu, datta ditempelkan ke nomina atau adjektiva-na. Kita akan secara bebas menggunakan penanda waktu “dulu” maupun “waktu itu” pada terjemahannya.

Untuk mengatakan bentuk negatif lampau (dulunya bukan), bentuk negatifnya dikonjugasi menjadi bentuk negatif lampau dengan membuang i dari janai dan menambahkan katta.

Aturan konjugasi untuk bentuk lampau

1.    Bentuk lampau : Tempelkan datta ke nomina atau adjektiva-na
tomodachi → tomodachi datta (waktu itu teman)
jouzu → jouzu datta (waktu itu mahir)

2.    Bentuk lampau negatif : Konjugasikan nomina atau adjektiva-na ke bentuk negatif lalu ganti i pada janai dengan katta
tomodachi → tomodachi janai → tomodachi janakatta (waktu itu bukan teman)
jouzu → jouzu janai → jouzu janakatta (waktu itu tidak mahir)

Ini contohnya:

先生だった
sensei datta
dulu guru
先生 (sensei): guru

約束を守る人じゃなかった
yakusoku o mamoru hito janakatta
dulu bukan orang yang menepati janji
約束 (yakusoku): janji
守る (mamoru): melindungi, menjaga
人 (hito): orang

Perhatikan bahwa di bahasa Jepang digunakan ungkapan “melindungi janji” (yakusoku o mamoru) yang di bahasa Indonesia umumnya adalah “menepati janji”.

きれいじゃなかった
kirei janakatta
waktu itu tidak cantik
Perlu diperhatikan bahwa bentuk lampau di bahasa Jepang sama sekali tidak mengatakan apapun tentang keadaannya yang sekarang. Misalnya pada contoh terakhir kalimatnya diartikan sebagai “waktu itu tidak cantik”. Bagaimana keadaanya sekarang? Apakah sekarang cantik atau tidak? Nah, janakatta sama sekali tidak bisa menjawab hal tersebut. Ini sama dengan contoh di atasnya yaitu sensei datta. Bisa saja sekarang juga masih guru, namun bisa juga sekarang sudah berhenti jadi guru.
Pada kalimat pertama lirik Watarasebashi, kamu bisa menjumpai suki datta. Ini adalah datta yang baru saja kita pelajari, yaitu pernyataan keadaan positif lampau. Namun pembahasan lengkapnya masih akan ditahan karena kita perlu tahu lebih lanjut tentang adjektiva-na suki (suka), terutama mengenai cara penggunaannya yang umum.

Penutup

Kita telah belajar mengkonjugasikan keadaan benda ke empat bentuk yang mungkin. Inilah tabel ringkasan konjugasi yang dipelajari di bab ini.

Lihat link ini karena upload fotonya lemot banget. Tabel
(Tabel ini dibuat berdasarkan bab yang bersesuaian pada Tutorial Bahasa Jepang Tae Kim yang masih akan direncanakan)

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

医者 (isha): dokter
大切 (taisetsu): penting
歌手 (kashu): penyanyi
黒い (kuroi): hitam
本 (hon): buku
簡単 (kantan): mudah, sederhana
魚 (sakana): ikan
上手 (jouzu): mahir
友達 (tomodachi): teman
きれい (kirei): cantik
先生 (sensei): guru
約束 (yakusoku): janji
守る (mamoru): melindungi, menjaga
人 (hito): orang
学生 (gakusei): murid

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tutorial Watarasebashi #18 – Partikel objek langsung o (を)

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Sabtu, Agustus 06, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Sekarang kita akan belajar partikel o yang menandakan objek langsung. Objek langsung adalah benda yang dikenai aksi suatu verba, misalnya “ikan” pada “saya makan ikan” dan “tembok” pada “dia memukul tembok”.

Penulisan dan cara baca

Partikel o ini di bahasa Jepang ditulis dengan hiragana を (wo). Namun pada prakteknya di percakapan dia umumnya diucapkan “o”, dan karenanya kita akan menggunakan romanisasi o. Tapi ingat, pengucapan “wo” juga akan kamu temui dan sepertinya pada lagu-lagu partikel ini malah lebih sering diucapkan sebagai “wo”. Pada baris pertama lagu Watarasebasi misalnya, partikel ini diucapkan sebagai “wo”.

Penggunaan

Sama seperti partikel de, partikel ini juga ditempelkan di belakang nomina yang ingin ditandai. Inilah contohnya.

魚を手で食べる
sakana o te de taberu
makan ikan dengan tangan

魚 (sakana): ikan
手 (te): tangan
食べる (taberu): makan

Ingat, karena peran katanya ditunjukkan dengan partikel, kita bisa dengan bebas menukar lokasinya. Yang penting verbanya ada di akhir.

手で魚を食べる
te de sakana o taberu
makan ikan dengan tangan

Pada semua contoh di atas, kita tahu bahwa ikan adalah objek langsungnya karena dia ditempeli o. Walaupun letaknya pada kalimat berubah, tidak akan ada kesalahpahaman atau perubahan arti.
Inilah beberapa contoh lain penggunaan partikel o.

壁を打つ
kabe o utsu
memukul tembol

壁 (kabe): tembok
打つ (utsu): memukul

動物を愛する人々
doubutsu o ai suru hitobito
orang-orang yang mencintai hewan

動物 (doubutsu): hewan
愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人々 (hitobito): orang-orang

Perhatikan bahwa ai adalah nomina. Dengan diberi suru dia menjadi verba. Jadi arti literal ai suru adalah “melakukan cinta”. Namun dengan konstruksi seperti ini akan lebih mudah kalau kamu menganggap seluruh kombinasi nomina+suru sebagai suatu verba. Pada contoh di atas, anggap ai suru sebagai suatu verba yang artinya “mencintai”. Tentu saja, bentuk lengkap “melakukan cinta” adalah ai o suru dan kamu juga akan menjumpai bentuk yang menggunakan o tersebut.

有名な小説を読む
yuumei na shousetsu o yomu
membaca novel terkenal

有名 (yuumei): terkenal
小説 (shousetu): novel
読む (yomu): membaca

Perlu diketahui bahwa apa yang merupakan objek langsung di bahasa Indonesia belum tentu diekspresikan dengan sama di bahasa Jepang. Sebagai contoh, pada frasa bahasa Indonesia “menjadi dokter”, verba “menjadi” didampingi objek langsung “dokter”. Tapi di bahasa Jepang, verba naru (menjadi) tidak menggunakan objek langsung. Dengan kata lain, untuk menandai isha (dokter) pada frasa “menjadi dokter” tidak digunakan partikel o namun partikel lain (akan dipelajari belakangan). Kalau ragu, saran saya adalah melihat contoh-contoh kalimat agar mengetahui partikel yang benar untuk suatu verba. Kamus yang memiliki contoh kalimat misalnya Yahoo! Jisho, WWWJDIC (cari katanya lalu klik pranala [Ex]), dan ALC. Jangan kaget kalau partikelnya tidak sesuai dengan yang kamu harapkan karena cara berpikir di bahasa Jepang memang berbeda dengan cara berpikir di bahasa Indonesia.

Partikel o dengan verba gerakan

Tidak seperti konsep objek langsung di bahasa Indonesia, tempat juga bisa menjadi objek langsung verba gerakan seperti aruku (berjalan) dan hashiru (berlari). Ini artinya kita bergerak melalui atau melintasi tempat tersebut. Bayangkan saja o menandakan objek injak-injakan kaki kita saat bergerak.

街をぶらぶら歩く
machi o burabura aruku
berjalan sepanjang kota tanpa tujuan. (lit: berjalan kota tanpa tujuan)

街 (machi): kota
ぶらぶら (burabura): tanpa tujuan
歩く (aruku): berjalan

高速道路を走る
kousoku douro o hashiru
berlari melintasi jalan raya. (lit: Berlari jalan raya)

高速 (kousoku): kecepatan tinggi
道路 (douro): jalan
走る (hashiru): berlari

o pada lirik Watarasebashi

Baris pertama lirik Watarasebashi adalah sebagai berikut:

渡良瀬橋で見る夕日を
watarasebashi de miru yuuhi o
(o dibaca “wo” pada potongan lirik ini)

Bisa dilihat bahwa o menempel pada yuuhi (matahari terbenam). Ini artinya “matahari terbenam (yang dilihat dari jembatan Watarase)” menjadi objek langsung dari suatu aksi. Apakah aksinya itu?
Kalimat pertama pada lagu Watarasebashi terdiri dari baris pertama dan kedua. Namun kalau kamu menyelidiki kata-kata yang ada di baris kedua, sebetulnya tidak ada verba di situ. Loh, kok bisa? Kalau tidak ada verba, lalu untuk apa partikel o-nya? Iya, ini memang bisa terjadi karena kalimat pertama di lirik Watarasebashi ternyata menggunakan tata bahasa yang cukup unik. Nanti misteri ini akan kita buka pelan-pelan.

Penutup

Partikel o menandai bahwa suatu kata adalah objek langsung. Bagi verba gerakan seperti aruku (berjalan), objek langsung maksudnya adalah tempat yang dilalui atau dilintasi. Terakhir, kita harus hati-hati karena verba-verba tertentu yang di bahasa Indonesia menggunakan objek langsung seperti “menjadi” ternyata tidak menggunakan partikel o di bahasa Jepang.

Lampiran: daftar kata
Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

魚 (sakana): ikan
手 (te): tangan
食べる (taberu): makan
壁 (kabe): tembok
打つ (utsu): memukul
動物 (doubutsu): hewan
愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人々 (hitobito): orang-orang
有名 (yuumei): terkenal
小説 (shousetu): novel
読む (yomu): membaca
医者 (isha): dokter
なる (naru): menjadi
街 (machi): kota
ぶらぶら (burabura): tanpa tujuan
歩く (aruku): berjalan
高速 (kousoku): kecepatan tinggi
道路 (douro): jalan
走る (hashiru): berlari

Minggu, 10 Juli 2011

Tutorial Watarasebashi #17 – Hubungan nomina dengan klausa subordinat yang mendeskripsikannya

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Minggu, Juli 10, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Pada bahasa Jepang, saat suatu nomina dimodifikasi oleh klausa subordinat verba, belum tentu nominanya adalah pelaku dari aksinya. Di episode sebelumnya, terdapat contoh berikut:

お箸で食べる人[1]
ohashi de taberu hito
orang yang makan dengan sumpit

お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
人 (hito): orang

Verbanya adalah “makan”, dan dalam contoh tersebut nomina yang dimodifikasi yaitu “orang” memang menjadi pelaku dari “makan”. Tapi lihat contoh berikutnya dari lagu Shabondama:

愛する人[2: | ]
ai suru hito

愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人 (hito): orang

Karena ai suru artinya “mencintai”, maka mungkin kamu menebak bahwa artinya adalah “orang yang mencintai”. Tapi itu bukan artinya! Pada frasa tersebut, “orang” ternyata bukanlah pelaku dari “mencintai”, tapi malah objek dari aksi “mencintai” tersebut. Pelakunya tersirat yaitu “aku”, penyanyi dari lagu tersebut. Jadi artinya sebetulnya adalah “orang yang aku mencintainya” atau mudahnya “orang yang kucintai”.

Karena hubungan yang fleksibel antara nomina dengan klausa subordinat ini, cara untuk mengetahui makna sebenarnya tentunya dengan menyimpulkan sendiri dari konteks yang ada. Jangan khawatir karena kalau sudah terbiasa, ini sebetulnya tidak sesusah yang dibayangkan. Ini contoh lainnya:

生きる証[3: | ]
ikiru akashi
Bukti bahwa (kita) hidup

生きる (ikiru): hidup
証 (akashi): bukti

Perhatikan bahwa artinya bukanlah “bukti yang hidup”. Lagi-lagi di sini pelaku verbanya yaitu “kita” tidak tertulis tetapi disimpulkan sendiri.

Dengan pengetahuan baru ini, sekarang kita bisa mengartikan lirik Watarasebashi:

渡良瀬橋で見る夕日
watarasebashi de miru yuuhi

見る (miru): melihat
夕日 (yuuhi): matahari terbenam

Jelas “matahari terbenam” tidak bisa melihat. Karena itu yang melihat pastilah orang, sedangkan “matahari terbenam” malah objek yang dilihat! Jadi terjemahan literalnya adalah “matahari terbenam yang melihatnya di Jembatan Watarase”. Kalau kita ingin menginterpretasikannya menjadi bahasa Indonesia yang enak didengar, maka kita bisa mengubahnya menjadi “matahari terbenam yang dilihat dari Jembatan Watarase”. Sekarang semuanya masuk akal kan?

Inilah diagram yang menunjukkan bagaimana suatu klausa subordinat menjelaskan suatu nomina. Seperti telah kita ketahui, cara kerjanya sama persis dengan adjektiva:


Penutup

Saat klausa subordinat mendeskripsikan nomina, tata bahasa Jepang tidak mendefinisikan peran yang pasti untuk nominanya. Bisa saja dia menjadi pelaku dari aksi yang ada, bisa saja dia menjadi objeknya, atau bahkan yang lainnya. Arti yang dimaksud harus disimpulkan sendiri dari konteks yang ada.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
愛 (ai): cinta
する (suru): melakukan
人 (hito): orang
見る (miru): melihat
夕日 (yuuhi): matahari terbenam

Rabu, 08 Juni 2011

Tutorial Watarasebashi #14 – Pengenalan pada adjektiva

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Rabu, Juni 08, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Langit yang luas

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]
Untuk bisa maju ke tahap berikutnya dalam memahami lirik Watarasebashi, kita perlu tahu bagaimana suatu nomina (kata benda) digambarkan di bahasa Jepang. Nomina seperti “buku” bisa dilukiskan sifatnya lebih lanjut misalnya “buku baru” (atau “buku yang baru”), “buku hitam”, dan “buku berat”. Kata-kata yang mendeskripsikan tersebut dinamakan adjektiva (kata sifat), dan itulah pembahasan kita kali ini.
Hal terpenting yang perlu diingat adalah urutannya terbalik dengan bahasa Indonesia. Jadi adjektivanya muncul sebelum nominanya. Lalu, di bahasa Jepang terdapat dua jenis adjektiva yaitu adjektiva-i dan adjektiva-na yang aturan penggunaanya berbeda.

Adjektiva-i

Adjektiva-i dinamakan begitu karena selalu diakhiri hiragana i(い). Ini adalah okurigana yaitu bagian akhir kata yang bisa berubah bentuk. Cara menggunakannya sangat mudah karena tidak perlu disisipi apa-apa:

1) 広い空
hiroi sora
langit luas

広い (hiroi): luas
空 (sora): langit

Contoh yang pertama ini ada di akhir lagu Watarasebashi.

2) 新しい本
atarashii hon
buku baru

新しい (atarashii): baru
本 (hon): buku

Tapi kamu juga perlu hati-hati karena beberapa adjektiva-na diakhiri hiragana i. Untungnya, saya rasa yang akan kamu temui hanyalah kirei (cantik, rapi) dan kirai (benci). Kirei hanya terlihat seperti adjektiva-i jika ditulis dengan hiragana (きれい). Kalau ditulis dengan kanji (綺麗), jelas bahwa sebetulnya tidak ada い yang menguntit. Kirai yang ditulis dengan kanji (嫌い) memang berakhiran い karena dia diturunkan dari kata kerja kirau (嫌う, membenci).

Adjektiva-na

Adjektiva-na dinamakan begitu karena kita perlu menambahkan na padanya agar bisa menggambarkan nomina:

3) きれいなとこ
kirei na toko
tempat indah

きれい (kirei): indah
とこ (toko): tempat

4) 静かな朝
shizuka na asa
pagi hening

静か (shizuka): hening
朝 (asa): pagi

Mudah kan?

Merantai banyak adjektiva

Untuk menggambarkan suatu nomina dengan banyak adjektiva, jejerkan saja mereka sebelum nominanya:

5) 安い新鮮な魚
yasui shinsen na sakana
ikan yang murah dan segar

安い (yasui): murah
新鮮 (shinsen): segar
魚 (sakana): ikan

Tentunya dengan urutan yang lain juga bisa:

6) 新鮮な安い魚
shinsen na yasui sakana
ikan yang segar dan murah

Proses adjektiva yang memodifikasi nomina bisa digambarkan seperti berikut:


Saya minta kamu memperhatikan sejenak baris paling bawah diagram tersebut. Bisa dilihat bahwa nominanya dimodifikasi oleh lebih dari satu hal. Nanti kamu akan sangat sering bertemu pola seperti ini, yaitu suatu nomina yang dimodifikasi oleh berbagai macam hal. Dalam kasus kita ini, yang memodifikasinya adalah adjektiva-adjektiva yang sederhana sehingga kita memilah-milahnya juga gampang. Namun di teks bahasa Jepang nanti kamu akan sering menemui berbagai klausa panjang yang memodifikasi nomina. Dalam kasus tersebut, polanya sebetulnya sama persis seperti kasus yang saat ini, hanya saja yang akan menjadi tantangan pada awalnya adalah mencari batas-batas tiap komponen yang memodifikasi tersebut.

Penutup

Di bahasa Jepang terdapat dua jenis adjektiva yaitu adjektiva-i dan adjektiva-na. Ciri adjektiva-i adalah diakiri hiragana i, namun perlu diingat bahwa kirei dan kirai adalah adjektiva-na. Adjektiva-na perlu ditambahi na sebelum bisa memodifikasi nomina.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

広い (hiroi): luas
空 (sora): langit
新しい (atarashii): baru
本 (hon): buku
綺麗 (kirei): cantik, rapi
嫌い (kirai): benci
嫌う (kirau): membenci
とこ (toko): tempat
静か (shizuka): hening
朝 (asa): pagi
安い (yasui): murah
新鮮 (shinsen): segar
魚 (sakana): ikan

Tutorial Watarasebashi #16 – Klausa subordinat deskriptif

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Rabu, Juni 08, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Matahari yang melihat?

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode sebelumnya kita telah melihat bagaimana adjektiva bisa menerangkan sifat nomina. Hal yang sama juga bisa dilakukan dengan mudah oleh suatu klausa yang diakhiri verba. Misalnya kita punya klausa berikut:

自転車で通う
jitensha de kayou
berangkat dan pulang dengan sepeda

自転車 (jitensha): sepeda
通う (kayou): pulang pergi (ke sekolah, tempat kerja, dsb)

Klausa itu bisa digunakan untuk menerangkan nomina misalnya gakusei:

自転車で通う学生[1]
jitensha de kayou gakusei
murid yang berangkat dan pulang dengan sepeda
学生 (gakusei): murid

Klausa subordinatnya ditandai dengan warna beda. Seperti yang bisa dilihat, kita tinggal memperlakukan klausanya layaknya suatu adjektiva! Aturan peletakannya juga sama yaitu sebelum nominanya. Dengan ini kemampuan berekspresi kita menjadi jauh lebih luas! Inilah contoh-contoh lainnya:

冬眠する動物[2]
toumin suru doubutsu
binatang yang berhibernasi

冬眠 (toumin): hibernasi
する (suru): melakukan
動物 (doubutsu): binatang

Perhatikan bahwa toumin adalah nomina yang artinya “hibernasi”. Dengan diberi verba suru, maka artinya menjadi “melakukan hibernasi” atau sederhananya “berhibernasi”. Banyak sekali nomina yang bisa diubah menjadi verba dengan diberi suru, misalnya benkyou (belajar, nomina) yang menjadi benkyou suru (belajar, verba) dan ai (cinta) yang menjadi ai suru (mencintai).

お箸で食べる人[3]
ohashi de taberu hito
orang yang makan dengan sumpit

お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
人 (hito): orang

Sumpit bisa disebut hashi maupun ohashi. Kata-kata tertentu memang sering diberi prefix o-, seperti bentou (makanan dalam kotak) yang sering juga disebut obentou. Yang diberi o- terdengar lebih sopan.

ストローで飲む女[4]
sutoroo de nomu onna
perempuan yang minum dengan sedotan

ストロー (sutoroo): sedotan (Inggris: straw)
飲む (nomu): minum
女 (onna): wanita, perempuan

シーワールドで泳ぐイルカ[5]
shii waarudo de oyogu iruka
lumba-lumba yang berenang di Sea World

シーワールド (shii waarudo): Sea World
泳ぐ (oyogu): berenang
イルカ (iruka): lumba-lumba

低い声で唸る人狼[6]
hikui koe de unaru jinrou
manusia serigala yang menggeram dengan suara rendah

低い (hikui): rendah
声 (koe): suara
唸る (unaru): menggeram
人狼 (jinrou): manusia serigala

Nah sekarang kita kembali ke lirik Watarasebashi. Kita punya:

渡良瀬橋で見る夕日
watarasebashi de miru yuuhi

yuuhi berarti “matahari terbenam”. Loh, lalu apakah artinya jadi “matahari terbenam yang melihat di Jembatan Watarase“? Tentu ini tidak masuk akal karena matahari tidak mungkin bisa melihat (kecuali kalau kita bicara kiasan atau fantasi, tapi bukan itu kasusnya di lagu ini). Lalu terlebih lagi matahari tidak bisa datang ke Jembatan Watarase. Ilmu dasarnya telah kita pelajari di episode ini, namun jawabannya harus menunggu di episode berikutnya karena memerlukan penjelasan tambahan.

Penutup

Klausa yang diakhiri verba bisa digunakan layaknya adjektiva. Dengan meletakkannya sebelum nomina, kita bisa menggambarkan nomina tersebut dengan cukup kompleks.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

自転車 (jitensha): sepeda
通う (kayou): pulang pergi (ke sekolah, tempat kerja, dsb)
学生 (gakusei): murid
冬眠 (toumin): hibernasi
する (suru): melakukan
動物 (doubutsu): binatang
勉強 (benkyou): belajar
愛 (ai): cinta
お箸 (ohashi): sumpit
食べる (taberu): makan
人 (hito): orang
弁当 (bentou): makanan dalam kotak
ストロー (sutoroo): sedotan (Inggris: straw)
飲む (nomu): minum
女 (onna): wanita, perempuan
シーワールド (shii waarudo): Sea World
泳ぐ (oyogu): berenang
イルカ (iruka): lumba-lumba
低い (hikui): rendah
声 (koe): suara
唸る (unaru): menggeram
人狼 (jinrou): manusia serigala

Tutorial Watarasebashi #15 – Latihan menggunakan adjektiva

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Rabu, Juni 08, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Setelah mempelajari adjektiva-i dan adjektiva-na, sekarang kamu akan latihan menggunakannya. Untuk tiap soal akan diberikan adjektiva dan nominanya, dan tugas kamu adalah menggunakan adjektivanya dengan benar untuk menggambarkan nominanya. Tujuannya adalah agar kamu terampil membedakan adjektiva-i dengan adjektiva-na.

笑顔 (egao): senyum
温かい (atatakai): hangat

       
Jawaban: atatakai egao [Motto Futari de:  | ]   

娘 (musume): putri
わがまま (wagamama): egois

       
Jawaban: wagamama na musume [Furusato:  | 詞]   

人 (hito): orang
大好き (daisuki): (sangat) suka

       
Jawaban: daisuki na hito [Suna wo Kamu You ni...NAMIDA:  | ]   


初恋 (hatsukoi): cinta pertama
淡い (awai): hanya sesaat, berlalu dengan cepat

       
Jawaban: awai hatsukoi [Zutto Suki de Ii desu ka:  | ]   

川 (kawa): sungai
綺麗 (kirei): indah

       
Jawaban: kirei na kawa (ingat, kirei adalah adjektiva-na) [ALL FOR ONE & ONE FOR ALL! :  | ]   

場所 (basho): tempat
遠い (tooi): jauh

       
Jawaban: tooi basho [Atarimae no Nichijou #1]   

自転車 (jitensha): sepeda
変 (hen): aneh

       
Jawaban: hen na jitensha [Atarimae no Nichijou #2]   

英語 (eigo): Bahasa Inggris
嫌い (kirai): benci

       
Jawaban: kirai na eigo (ingat, kirai adalah adjektiva-na) [1]    

Selasa, 07 Juni 2011

Tutorial Watarasebashi #13 – Latihan partikel konteks de (で)

Diposkan oleh Fitria Amanda Putri di Selasa, Juni 07, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Kita telah mempelajari fungsi partikel de, yaitu memberikan konteks untuk verba. Konteks tersebut bisa berupa alat atau cara (dengan, menggunakan) maupun konteks tempat (di).
Sekarang waktunya untuk sedikit latihan. Yang perlu kamu lakukan sangat mudah yaitu menulis terjemahan bahasa Indonesianya. Soal-soal berikut berdasarkan lagu (dengan modifikasi seperlunya), dan kamu bisa mengklik ♪ untuk mendengar lagunya dan 詞 untuk melihat liriknya. Gunakan lampiran di akhir artikel ini untuk mencari tahu arti kata-kata yang tidak kamu ketahui.

1) 電話で話す [Koe:  | 詞]
denwa de hanasu

       
Jawaban: berbicara dengan telepon

2) 東京で暮らす [Furusato:  | 詞]
toukyou de kurasu

       
Jawaban: tinggal di Tokyo

3) たこ焼き屋さんで読む [Sabori:  | 詞]
takoyaki-ya-san de yomu

       
Jawaban: membaca di warung takoyaki

4) 自転車で帰る[Suppin to Namida:  | 詞]
jitensha de kaeru

       
Jawaban: pulang dengan sepeda

Dua soal terakhir di bawah diambil dari novel amatir Atarimae no Nichijou:
5) 階段で転ぶ
kaidan de korobu

       
Jawaban: jatuh di tangga
   
6) 小声で話す
kogoe de hanasu

       
Jawaban: berbicara dengan suara pelan (berbisik). Perhatikan bahwa di sini konteks yang diberikan bukanlah alat fisik, tapi lebih ke arah cara melakukan sesuatu.
 
Lampiran: daftar kata

東京 (toukyou): Tokyo
暮らす (kurasu): tinggal
電話 (denwa): telepon
話す (hanasu): berbicara
たこ焼き屋さん (takoyaki-ya-san): warung Takoyaki
読む (yomu): membaca
自転車 (jitensha): sepeda
帰る (kaeru): pulang
階段 (kaidan): tangga
転ぶ (korobu): jatuh (terpeleset, tersandung, dsb)
小声 (kogoe): suara pelan