Minggu, 28 November 2010

Panduan Mempelajari Bahasa Jepang – BAB 7 – BENTUK KALIMAT (Bunpou)

Panduan Mempelajari Bahasa Jepang – BAB 7 – BENTUK KALIMAT (Bunpou)
-ooOoo-

Kalimat Praktis

Kalimat praktis adalah kalimat yang memiliki pola lkalimat paling dasar dalam Bahasa Jepang yang berbeda dengan pola kalimat Bahasa Indonesia, yakni SOP (subjek, objek, predikat). Contohnya sebagai berikut.

Kalimat dalam Bahasa Indonesia :
Heni membeli mobil = Pola kalimat S-P-O

Kalimat dalam Bahasa Jepang :
Heni-san wa jidousha wo kaimasu = Pola kalimat S-partikel wa-O-partikel wo-P

Bentuk kalimat dasar terdiri atas kalimat positif, negatif, dan kalimat tanya. Pola kalimat dasar inilah yang nantinya akan dikembangkan menjadi kalimat yang lebih kompleks atau lengkap.

1. Kalimat Dasar Praktis
Pola Kalimat Positif
A + partikel wa + B + desu

Keterangan
A    : berfungsi sebagai subjek/topik kalimat
Wa    : partikel yang menandakan kalimat sebelumnya adalah sebuah topik kalimat/subjek
B    : berfungsi sebagai keterangan subjek dalam sebuah kalimat
Desu    : digunakan setelah kata benda. Menandakan bentuk formal pada sebuah kalimat positif.

Contoh kalimat positif :
Tanaka-san wa nihonjin desu. (Tanaka adalah orang Jepang.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Negatif
A + partikel wa + B + dewa arimasen

Keterangan
~dewa arimasen : merupakan bentuk negatif dari desu untuk menandakan kalimat tersebut adalah kalimat yang memiliki makna pengingkaran, yakni bukan atau tidak dalam bentuk yang formal. Dalam bahasa percakapan, ~dewa arimasen bisa disingkat dengan ~dewa nai.

Contoh kalimat negatif :
Watashi wa meisha dewa arimasen. (Saya bukan dokter mata.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Tanya
A + partikel wa + B + desuka?

Keterangan
~desuka : merupakan bentuk kata tanya dalam bentuk formal. ~ka sendiri memiliki makna ‘apakah’.

Contoh kalimat tanya :
Rika-san wa kirei desuka? (Apakah Rika cantik?)
Jawaban ‘ya’
Hai, Rika-san wa kirei desu. (Ya, Rika cantik.)
Jawaban ‘tidak’
Iie, Rika-san wa kirei dewa arimasen. (Tidak, Rika tidak cantik.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Positif
A + partikel wa + B + deshita

Keterangan
~deshita : merupakan bentuk lampau dari ~desu. Memiliki makna ‘dulu’ dalam bentuk kalimat positif.

Contoh kalimat lampau positif :
Tenten-san wa mazushii hito deshita. (Dulu, Tenten orang yang miskin.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Negatif
A + partikel wa + B + dewa arimasen deshita

Keterangan
~dewa arimasen deshita : merupakan bentuk lampau dari ~dewa arimasen dan memiliki makna ‘bukan’ dalam bentuk kalimat negatif.

Contoh kalimat lampau negatif :
Atsushi-san wa jouzu dewa arimasen deshita. (Dulu, Atsushi tidak pintar.)


2. Kalimat Dasar Praktis Berobjek
Pola Kalimat Positif
A + partikel wa + B + partkel wo + kata kerja~masu

Keterangan
A             : berfungsi sebagai subjek/topik kalimat
Wa             : partikel yang menandakan kalimat sebelumnya adalah sebuah topik kalimat/subjek
B             : berfungsi sebagai objek
Wo             : partikel yang menunjukkan objek suatu perbuatan (objek langsung)
Kata kerja~masu : kata kerja yang digunakan sebagai predikat untuk menerangkan objek dalam kalimat positif

Contoh kalimat positif :
Haha wa tegami wo kakimasu. (Ibu menulis surat.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Negatif
A + partikel wa + B + partikel wo + kata kerja~masen

Keterangan
Kata kerja~masen : bentuk negatif dari kata kerja dalam bentuk ~masu dan memiliki makna pengingkaran, yakni bukan atau tidak. Dalam bahasa percakapan ~masen bisa disingkat dengan ~nai.

Contoh kalimat negatif :
Rukia-san wa zasshi wo yomimasen. (Rukia tidak membaca majalah.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Tanya
A + partikel wa + B + partkel wo + kata kerja~masuka?

Keterangan
Kata kerja~masuka : bentuk kalimat tanya dalam kalimat formal. ~ka sendiri memiliki makna ‘apakah’.

Contoh kalimat tanya :
Anata wa ongaku wo kikimasuka? (apakah kamu mendengarkan musik?)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Positif
A + partikel wa + B + partikel wo + kata kerja~mashita

Keterangan
~mashita : Kata kerja yang berfungsi sebagai predikat untuk menerangkan objek dalam kalimat positif lampau dan memiliki makna ‘telah’.

Contoh kalimat lampau positif :
Heiwa-san wa nooto wo kakimashita. (Heiwa telah menulis catatan.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Negatif
A + partikel wa + B + partikel wo + kata kerja~masen deshita

Keterangan
~masen deshita : merupakan bentuk negatif dari (kata kerja)~mashita. Dalam bahasa percakapan ~masendeshita bisa disingkat dengan ~nakatta.

Contoh kalimat lampau negatif :
Ken-san wa hon wo kakimasen deshita. (Ken tidak lagi menulis buku.)
-ooOoo-

3. Keterangan Topik yang Sama Berupa Kata Sifat (Adjektiva)

Berakhiran ~i

Jika ingin menyambungkan dua kata sifat berakhiran ~i maka huruf i paling akhir pada kata sifat tersebut dihapus dan diganti dengan ~kute.

# Pola Kalimat Positif

Kalimat 1     : A + wa + kata sifat ~i + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~i + desu
Manjadi    : A + wa + kata sifat ~kute 1 + kata sifat kedua + desu

Keterangan
A        : keterangan topik/subjek.
~kute        : bentuk sambung dari kata sifat berakhiran ~i, bermakna dan.
Kata sifat 1 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat pertama.
Kata sifat 2 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat kedua. Sebagai catatan kata sifat yang terletak di akhir kalimat dibiarkan seperti adanya dan tidak mengalami perubahan.

Contoh kalimat positif :
Kalimat 1     : Kono kamera wa furui desu.
Kalimat 2     : Kono kamera wa omoi desu.
Menjadi    : Kono kamera wa furukute omoi desu.

# Pola Kalimat Negatif


Kalimat 1     : A + wa + kata sifat ~kunai + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~kunai + desu
Menjadi     : A + wa + kata sifat ~kunakute 1 + kata sifat ~i 2 + desu

Contoh Kalimat Negatif :
Kalimat 1     : Sono ringo wa yasukunai desu.
Kalimat 2     : Sono ringo wa oishikunai desu.
Menjadi     : Sono ringo wa yasukunakute oishikunai desu.

Berakhiran ~na

Penyambungan kata sifat berakhiran ~na hampir sama dengan penyambungan pada nomina, yakni cukup menghilangkan ~na lalu diganti dengan kata sambung de.

# Pola Kalimat

Kalimat 1    : A + wa + kata sifat ~na + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~na + desu
Menjadi     : A + wa + kata sifat ~na 1 + de + kata sifat ~na 2 + desu

Keterangan
A        : keterangan topik/subjek.
de        : bentuk sambung dari kata sifat berakhiran ~na, dan memiliki makna “dan”. De ini berasal dari kata desu
Kata sifat 1 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat pertama.
Kata sifat 2 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat kedua.

Catatan!
Akhiran ~na pada kata sifat berakhiran ~na tidak dimunculkan setelah desu. ~na baru akan muncul bila diikuti dengan kata nomina. (kata benda).

Contoh :

^ Kurasu no heya wa shizuka desu. (Ruang kelas sejuk.)
^ Watashi no heya wa shizukana heya desu. (Kamar saya adalah kamar yang sejuk.)

Contoh kalimat :

Kalimat 1    : kono kaban wa kirei desu. (tas ini bagus.)
Kalimat 2    : kono kaban wa joubu desu. (tas ini kuat.)
Menjadi    : kono kaban wa kirei de joubu desu. (tas ini bagus dan kuat.)

4. Keterangan Topik Masing-masing Berupa Kata Sifat (Adjektiva)


Berakhiran ~na dan ~i

Penggabungan kata sifat berakhiran ~na dengan kata sifat berakhiran ~i hampir sama dengan penggabungan pada nomina, yakni cukup menghilangkan ~na lalu diganti dengan kata sambung de yang memiliki makna “dan”.

# Pola Kalimat

Kalimat 1    : A + wa + kata sifat ~na + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~i + desu
Menjadi     : A + wa + kata sifat ~na + de + kata sifat ~i + desu

Keterangan
A        : keterangan topik/subjek.
de        : bentuk sambung dari kata sifat berakhiran ~na, dan memiliki makna “dan”. De ini berasal dari kata desu
Kata sifat 1 : kata sifat berakhiran ~na yang berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat pertama.
Kata sifat 2 : kata sifat berakhiran ~i yang berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat kedua.

Contoh kalimat :
Kalimat 1    : Nihongo wa kantan desu. (Bahasa Jepang mudah.)
Kalimat 2    : Nihongo wa omoshiroi desu. (Bahasa Jepang menarik.)
Menjadi    : Nihongo wa kantan de omoshiroi desu. (Bahasa Jepang mudah dan menarik.)
-ooOoo-

Bab 7 – Bentuk Kalimat, selesai. Semoga pelajaran hari ini dapat bermanfaat bagi kalian semua. Silakan dicoba kembali! Jika ada pertanyaan atau komentar, dapat bertanya ke saya, seputar pelajaran Bahasa Jepang yang saya ajarkan ini. Mata ashita, ganbatte yo!

0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 28 November 2010

Panduan Mempelajari Bahasa Jepang – BAB 7 – BENTUK KALIMAT (Bunpou)

Diposting oleh Fitria Amanda Putri di Minggu, November 28, 2010
Reaksi: 
Panduan Mempelajari Bahasa Jepang – BAB 7 – BENTUK KALIMAT (Bunpou)
-ooOoo-

Kalimat Praktis

Kalimat praktis adalah kalimat yang memiliki pola lkalimat paling dasar dalam Bahasa Jepang yang berbeda dengan pola kalimat Bahasa Indonesia, yakni SOP (subjek, objek, predikat). Contohnya sebagai berikut.

Kalimat dalam Bahasa Indonesia :
Heni membeli mobil = Pola kalimat S-P-O

Kalimat dalam Bahasa Jepang :
Heni-san wa jidousha wo kaimasu = Pola kalimat S-partikel wa-O-partikel wo-P

Bentuk kalimat dasar terdiri atas kalimat positif, negatif, dan kalimat tanya. Pola kalimat dasar inilah yang nantinya akan dikembangkan menjadi kalimat yang lebih kompleks atau lengkap.

1. Kalimat Dasar Praktis
Pola Kalimat Positif
A + partikel wa + B + desu

Keterangan
A    : berfungsi sebagai subjek/topik kalimat
Wa    : partikel yang menandakan kalimat sebelumnya adalah sebuah topik kalimat/subjek
B    : berfungsi sebagai keterangan subjek dalam sebuah kalimat
Desu    : digunakan setelah kata benda. Menandakan bentuk formal pada sebuah kalimat positif.

Contoh kalimat positif :
Tanaka-san wa nihonjin desu. (Tanaka adalah orang Jepang.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Negatif
A + partikel wa + B + dewa arimasen

Keterangan
~dewa arimasen : merupakan bentuk negatif dari desu untuk menandakan kalimat tersebut adalah kalimat yang memiliki makna pengingkaran, yakni bukan atau tidak dalam bentuk yang formal. Dalam bahasa percakapan, ~dewa arimasen bisa disingkat dengan ~dewa nai.

Contoh kalimat negatif :
Watashi wa meisha dewa arimasen. (Saya bukan dokter mata.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Tanya
A + partikel wa + B + desuka?

Keterangan
~desuka : merupakan bentuk kata tanya dalam bentuk formal. ~ka sendiri memiliki makna ‘apakah’.

Contoh kalimat tanya :
Rika-san wa kirei desuka? (Apakah Rika cantik?)
Jawaban ‘ya’
Hai, Rika-san wa kirei desu. (Ya, Rika cantik.)
Jawaban ‘tidak’
Iie, Rika-san wa kirei dewa arimasen. (Tidak, Rika tidak cantik.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Positif
A + partikel wa + B + deshita

Keterangan
~deshita : merupakan bentuk lampau dari ~desu. Memiliki makna ‘dulu’ dalam bentuk kalimat positif.

Contoh kalimat lampau positif :
Tenten-san wa mazushii hito deshita. (Dulu, Tenten orang yang miskin.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Negatif
A + partikel wa + B + dewa arimasen deshita

Keterangan
~dewa arimasen deshita : merupakan bentuk lampau dari ~dewa arimasen dan memiliki makna ‘bukan’ dalam bentuk kalimat negatif.

Contoh kalimat lampau negatif :
Atsushi-san wa jouzu dewa arimasen deshita. (Dulu, Atsushi tidak pintar.)


2. Kalimat Dasar Praktis Berobjek
Pola Kalimat Positif
A + partikel wa + B + partkel wo + kata kerja~masu

Keterangan
A             : berfungsi sebagai subjek/topik kalimat
Wa             : partikel yang menandakan kalimat sebelumnya adalah sebuah topik kalimat/subjek
B             : berfungsi sebagai objek
Wo             : partikel yang menunjukkan objek suatu perbuatan (objek langsung)
Kata kerja~masu : kata kerja yang digunakan sebagai predikat untuk menerangkan objek dalam kalimat positif

Contoh kalimat positif :
Haha wa tegami wo kakimasu. (Ibu menulis surat.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Negatif
A + partikel wa + B + partikel wo + kata kerja~masen

Keterangan
Kata kerja~masen : bentuk negatif dari kata kerja dalam bentuk ~masu dan memiliki makna pengingkaran, yakni bukan atau tidak. Dalam bahasa percakapan ~masen bisa disingkat dengan ~nai.

Contoh kalimat negatif :
Rukia-san wa zasshi wo yomimasen. (Rukia tidak membaca majalah.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Tanya
A + partikel wa + B + partkel wo + kata kerja~masuka?

Keterangan
Kata kerja~masuka : bentuk kalimat tanya dalam kalimat formal. ~ka sendiri memiliki makna ‘apakah’.

Contoh kalimat tanya :
Anata wa ongaku wo kikimasuka? (apakah kamu mendengarkan musik?)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Positif
A + partikel wa + B + partikel wo + kata kerja~mashita

Keterangan
~mashita : Kata kerja yang berfungsi sebagai predikat untuk menerangkan objek dalam kalimat positif lampau dan memiliki makna ‘telah’.

Contoh kalimat lampau positif :
Heiwa-san wa nooto wo kakimashita. (Heiwa telah menulis catatan.)
-ooOoo-

Pola Kalimat Lampau Negatif
A + partikel wa + B + partikel wo + kata kerja~masen deshita

Keterangan
~masen deshita : merupakan bentuk negatif dari (kata kerja)~mashita. Dalam bahasa percakapan ~masendeshita bisa disingkat dengan ~nakatta.

Contoh kalimat lampau negatif :
Ken-san wa hon wo kakimasen deshita. (Ken tidak lagi menulis buku.)
-ooOoo-

3. Keterangan Topik yang Sama Berupa Kata Sifat (Adjektiva)

Berakhiran ~i

Jika ingin menyambungkan dua kata sifat berakhiran ~i maka huruf i paling akhir pada kata sifat tersebut dihapus dan diganti dengan ~kute.

# Pola Kalimat Positif

Kalimat 1     : A + wa + kata sifat ~i + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~i + desu
Manjadi    : A + wa + kata sifat ~kute 1 + kata sifat kedua + desu

Keterangan
A        : keterangan topik/subjek.
~kute        : bentuk sambung dari kata sifat berakhiran ~i, bermakna dan.
Kata sifat 1 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat pertama.
Kata sifat 2 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat kedua. Sebagai catatan kata sifat yang terletak di akhir kalimat dibiarkan seperti adanya dan tidak mengalami perubahan.

Contoh kalimat positif :
Kalimat 1     : Kono kamera wa furui desu.
Kalimat 2     : Kono kamera wa omoi desu.
Menjadi    : Kono kamera wa furukute omoi desu.

# Pola Kalimat Negatif


Kalimat 1     : A + wa + kata sifat ~kunai + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~kunai + desu
Menjadi     : A + wa + kata sifat ~kunakute 1 + kata sifat ~i 2 + desu

Contoh Kalimat Negatif :
Kalimat 1     : Sono ringo wa yasukunai desu.
Kalimat 2     : Sono ringo wa oishikunai desu.
Menjadi     : Sono ringo wa yasukunakute oishikunai desu.

Berakhiran ~na

Penyambungan kata sifat berakhiran ~na hampir sama dengan penyambungan pada nomina, yakni cukup menghilangkan ~na lalu diganti dengan kata sambung de.

# Pola Kalimat

Kalimat 1    : A + wa + kata sifat ~na + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~na + desu
Menjadi     : A + wa + kata sifat ~na 1 + de + kata sifat ~na 2 + desu

Keterangan
A        : keterangan topik/subjek.
de        : bentuk sambung dari kata sifat berakhiran ~na, dan memiliki makna “dan”. De ini berasal dari kata desu
Kata sifat 1 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat pertama.
Kata sifat 2 : berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat kedua.

Catatan!
Akhiran ~na pada kata sifat berakhiran ~na tidak dimunculkan setelah desu. ~na baru akan muncul bila diikuti dengan kata nomina. (kata benda).

Contoh :

^ Kurasu no heya wa shizuka desu. (Ruang kelas sejuk.)
^ Watashi no heya wa shizukana heya desu. (Kamar saya adalah kamar yang sejuk.)

Contoh kalimat :

Kalimat 1    : kono kaban wa kirei desu. (tas ini bagus.)
Kalimat 2    : kono kaban wa joubu desu. (tas ini kuat.)
Menjadi    : kono kaban wa kirei de joubu desu. (tas ini bagus dan kuat.)

4. Keterangan Topik Masing-masing Berupa Kata Sifat (Adjektiva)


Berakhiran ~na dan ~i

Penggabungan kata sifat berakhiran ~na dengan kata sifat berakhiran ~i hampir sama dengan penggabungan pada nomina, yakni cukup menghilangkan ~na lalu diganti dengan kata sambung de yang memiliki makna “dan”.

# Pola Kalimat

Kalimat 1    : A + wa + kata sifat ~na + desu
Kalimat 2     : A + wa + kata sifat ~i + desu
Menjadi     : A + wa + kata sifat ~na + de + kata sifat ~i + desu

Keterangan
A        : keterangan topik/subjek.
de        : bentuk sambung dari kata sifat berakhiran ~na, dan memiliki makna “dan”. De ini berasal dari kata desu
Kata sifat 1 : kata sifat berakhiran ~na yang berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat pertama.
Kata sifat 2 : kata sifat berakhiran ~i yang berfungsi sebagai keterangan topik/subjek pada kalimat kedua.

Contoh kalimat :
Kalimat 1    : Nihongo wa kantan desu. (Bahasa Jepang mudah.)
Kalimat 2    : Nihongo wa omoshiroi desu. (Bahasa Jepang menarik.)
Menjadi    : Nihongo wa kantan de omoshiroi desu. (Bahasa Jepang mudah dan menarik.)
-ooOoo-

Bab 7 – Bentuk Kalimat, selesai. Semoga pelajaran hari ini dapat bermanfaat bagi kalian semua. Silakan dicoba kembali! Jika ada pertanyaan atau komentar, dapat bertanya ke saya, seputar pelajaran Bahasa Jepang yang saya ajarkan ini. Mata ashita, ganbatte yo!

0 komentar on "Panduan Mempelajari Bahasa Jepang – BAB 7 – BENTUK KALIMAT (Bunpou)"

Posting Komentar